- Dark Novel

Sunday, May 5, 2019

Dulu, Sampai Sekarang, Cinta Masihlah Sama

CH 119.png
Air mata darah dan gemeletuk-gemeletuk gigi, Geuse meraung.
Emilia tidak bisa menenangkan bulu kuduknya yang naik.
Sesaat lalu, sesuatu yang hitam mencoba mengambil alih tubuh Geuse. Namun telah berhenti mengamuk di luar tubuhnya, kini menggeliat-geliat di dalam tubuh.
Tubuh Geuse di balik jubah hitamnya kejang-kejang.
Darah yang merembes melalui kain tebal mengesankan betapa mengerikan kondisinya, memperlihatkan huru-hara dalam tubuh internalnya.
“Geuse ….”
Apa yang dimasukkan Geuse ke dalam dirinya?
Serangan apa pula yang merobohkan Regulus? Seolah-olah Emilia tidak melihat kejadian sebenarnya, hanya merasa nostalgia belaka.
Seakan-akan sejenak tadi dia baru saja melihat hal yang serupa—
“Kebulatan tekadmu sangat yahud. Uskup Agung Betelgeuse RomanĂ©e-Conti.”
Suara semilir perempuan menyela pemikiran Emilia.
Si pembicara itu Pandora, menatap Geuse yang nafasnya megap-megap dan muntah darah. Bahkan saat menyaksikan Regulus melayang-layang di langit, wajahnya tetap stagnan tak tegoyahkan.
“Hebat sekali kau mampu merangkum Unsur Penyihir, walau kau tidak memenuhi kualifikasi. Atas namaku Pandora, kuakui determinasimu dan menghadiahkan kursi Kemalasan kepadamu.”
“Kau kira aku menginginkan Kursi tersebut?  Harapanku semata-mata hanya satu. Takkan menyesalkan pengorbanan ini, yakni keselamatan keluarga itu!
Fortuna dan Emilia menjauh dari zona tempur.
Geuse memutuskan untuk mempertaruhkan nyawanya pada pelarian mereka. Alis Pandora terangkat karena terkejut, pipinya memerah, senyumnya tanpa dosa.
“Cinta. Mengagumkan sekali.”
“Sebuah emosi yang takkan pernah kau mengerti!”
Pandora masih lebih tenang dan woles-woles saja. Geuse, siap bertarung sampai tetes darah penghabisan.
Menopang dirinya dengan satu lutut tatkala mengangkat lengan yang gemetaran, memaksa matanya yang berdarah-darah terbuka lebar lalu meneriakkan:
“Wewenang Kemalasan—Unseen Hand!” Tekanan maha besar muncul dari diri Geuse.
Tetapi mata Emilia tidak mampu membedakan sifat kekuatan ini. Geuse hanya mengulurkan tangannya dan berteriak saja, tidak mengubah tampilan bumi. Kendati begitu ….
“Hutannya digunduli!?” tanya Emilia.
Seluruh area di sekitar Geuse, seolah terliputi ular tak terlihat yang menyebar dan membuat segala kehancuran. Pohon-pohon roboh, bumi retak, gumpalan tanah dan rumput berserakan di udara.
“Aaauuu … aaaaAAAAAHHHHHH!”
Membabi-buta merusak lingkungan Geuse, kehancuran menjawab teriakannya kala tangan-tangan itu mengarah ke Pandora. Sekalipun dihadapkan penghancuran mirip raksasa yang menghantam hutan, gadis itu sama sekali tidak bergerak.
Lantas, kehancuran tersebut mulai menjalar hingga jalurnya, menangkap si Pandora kecil kemudian—
“Hei.”
“—!?” Geuse bingung.
“Aku datang ke sini, hadir di sini, kau melakukan apa hingga berani tidak mengindahkan diriku? Tidak menggubris aku, kini aku mempertimbangkan sepertinya merupakan waktu-waktu yang tepat untuk murka.”
Seketika ular-ular tak terlihat menjangkau Pandora, sosok putih memotong jalur serangan.
Rambutnya berdesir, tangan Regulus yang terangkat telah menghentikan gelombang kejutnya. Dampaknya mestinya telah membunuh orang biasa, tapi dia masih berdiri di sana, tidak terkena apa-apa. Pikir lagi baik-baik. Dibanting ke tanah sekuat mungkin sampai sebagian bumi terbelah, tubuhnya seharusnya terkubur dalam tanah, kesampingkan saja darah, tidak ada setitik kotoran pun padanya.
“Tidak mungkin ….”
Tangan Emilia menutupi mulut, dia terdiam seribu bahasa.
Dia aman-aman saja dari serangan kejutan Fortuna paling tidak masih bisa dipahami. Bilamana Regulus mempunyai kemampuan tempur jauh melebihi Fortuna, barangkali dia berhasil bertahan dari serangan mematikan itu.
Namun serangan tak terlihat Geuse beda cerita. Tiada kabut putih yang menghalangi pandangan Emilia saat ini—dia jelas-jelas menyaksikan Regulus dilemparkan ke udara dan dibanting ke tanah. Tanpa perlawanan, dihantam-hantam ke tanah.
Masih ada peluang satu juta banding satu dirinya tidak terluka.
Tapi sama sekali tidak ada tanah maupun kotoran atau apa pun yang mengotorinya, itu patut dipertanyakan. Pasti ada semacam trik yang mencegah serangan dari—tidak—menangkal efek luar ke Regulus.
“Regulus Corneas!”
“Tahukah kau betapa menyebalkannya? Unsur itu sendiri belum mengakuimu, tetapi mengabaikan tubuhmu yang kritis karena memaksa mahluk itu menundukkanmu. Pikirmu bukankah itu suatu penghinaan kepada kami yang mendapatkan Kursi lewat proses yang layak? Bukankah itu ‘kan merusak setitik kebanggaan tak labil dalam diriku?”
Sejalan dengan ayunan lengan Geuse, wajah Regulus melambung.
Lehernya berputar-putar seakan telah terpukul, namun tatkala mengembalikan kepalanya ke posisi yang tepat, tidak ada bekas luka yang menodai parasnya. Hanya mengernyitkan alis kesal, tanpa pertahanan kala pukulan berturut-turut lanjut meninjunya.
“Kurasa berada di sini tidak menunjukkan perkembangan tertentu.” Geuse melawan Regulus yang sedari tadi menahan serangan.
Emilia melihat seorang teman lama mempertaruhkan hidupnya dalam pertempuran, ketika itulah Echidna memanggilnya dari belakang.
Emilia balas melirik, memelototi si Penyihir tanpa emosi.
“Kau menyuruhku untuk pergi? Tapi apa kabar dengan Geuse, betapa gigihnya dia mencoba!”
“Sekalipun demikian, mempertanyakan apakah usahanya akan membuahkan hasil yang diinginkan masih diperdebatkan. Sayangnya, aku tidak ingin mendebatmu. Tidak menarik untuk menyiksa orang lemah, mendengar satu suku kata pun dari mulutmu adalah puncak ketidaknyamanan.”
“Kalau begitu sebaiknya kita tetap diam dan menonton saja. Aku akan ….” tinggal di sini, dan melihat kebulatan hati Geuse hingga akhir.
Namun sebelum bilang begitu, hati Emilia sendiri menahannya untuk berkata demikian. Tangannya gagal menyentuh apa-apa di dada, lantas dia pun ingat tujuan datang ke sini. Yaitu untuk menantang Ujian dan melampaui masa lalunya, itulah tujuannya.
Emilia saat ini menyaksikan masa lalu sebenarnya, masa lalu yang ingin dia lupakan.
Pertarungan Geuse di sini betul-betul tengah terjadi, mungkin hasilnya sesuai harapan Emilia, ketimbang kondisi Fortuna dan Emilia kecil.
—Tapi itu akan mengkhianati perasaan Subaru, membiarkannya pergi, juga perasaan Geuse, pria itu berusaha mengamankan pelarian Emilia serta Fortuna, sekaligus mengkhinati mereka berdua.
Apa kabar Fortuna dan Emilia setelah Geuse mengulur waktu?
Emilia perlu menggali lebih banyak masa lalunya yang tertidur dan belum pulih, kemudian mengungkapkan jawabannya.
“Sepertinya otak tololmu masih bisa mengerti mana keputusan yang lebih bijak.”
“… Kau benar. Ayo ikuti aku dan Ibu. Geuse bagaimana ….?”
“Tidak usah risau, hanya pertarungan antar Uskup Agung Dosa Besar. Skala pertarungan takkan berubah semudah itu. Lain cerita seandainya ada pihak lain yang ikut campur … namun, tidak masuk akal kalau Pandora terlibat dalam pertarungan.”
Keganasan pertempuran Geuse melawan Regulus.
Tetes-tetes darah dari Geuse, hidung dan mulutnya.  Koresponden dengan skala kerusakan yang mengobrak-abrik bagian dalam tubuhnya, kemusnahan tak terlihat yang Geuse perbuat benar-benar tepat sasaran dan kuat. Tetapi Regulus masih belum berubah dan biasa-biasa saja. Meskipun tubuhnya yang banyak titik buta dihajar habis-habisan, orang itu berdiri di sana sambil memasang wajah bosan, meremehkan perlawanan Geuse.
Suam-suam terasa stabil, mana kala Regulus menyerang, situasi akan langsung berubah.
“Hauhhhh ….”
Tatapan Echidna menusuk Pandora, jantungnya berdebar cepat dan ekspresinya seolah tersulut.
Memang, tampaknya dia takkan melibatkan diri dalam pertarungan. Seorang gadis cantik dihadapkan pertempuran abnormal, dirinya yang megap-megap akan kelihatan sensual—tinggalkan saja semua keanehan itu.
“Aku merubah adegan ini—kepadamu dan ibumu yang kabur ke hutan.”
“—Ehhh.”
Echidna mengangkat tangan dan memetik jari tangan ….
Segala hal dalam penglihatan Emilia melengkung dan pemandangan hutan berubah, perasaan aneh di tanah tempatnya memijak telah tergantikan sesuatu baru yang membuatnya goyah. Emilia mengangkat kepala. Hutan bagian baru itu belum hancur, tempatnya familiar.
“Tidak! Ibu, tidak! Tolong jangan tinggalkan aku!”
Mendengarkan suara lengkingan seorang anak yang menangis, kepala Emilia dewasa tersentak.
Yang dia lihat adalah pohon-pohon tak asing—bagian dalamnya dilubangi dan dirombak menjadi ruang yang cukup besar untuk menampung anak kecil, dia dan Ibunya sebut Ruang Putri.
Fortuna dan Emilia kecil yang menangis sedang bercakap-cakap di luar pintu masuk.
Emilia menempel di dada Fortuna. Sang Ibu meraih pundak putrinya, dan dengan panik berkata ….
“Dengarkan aku, Emilia. Semuanya baik-baik saja. Aku akan kembali nanti … ya, setelah menyelesaikan ini secepat mungkin dan langsung balik. Kumohon tinggal saja di sini selagi aku mengurus semuanya. Tolonglah.”
“Tidak! Tidak mau! Wajah Ibu Fortuna mirip Geuse! Seperti Geuse, Ibu mau ngapain! M-meninggalkanku, Ibu mau … ngapain ….”
Tangan mungil Emilia mengerat agar ibunya tidak kabur.
Fortuna seharusnya mudah melepaskan diri dari cengkeraman anak itu semaunya. Alasan untuk tidak melepaskan diri dari tangan Emilia dibuktikan dari mata ungunya yang menatap lekat-lekat Emilia.
Fortuna adalah ibu Emilia. Dia tidak bisa mengusir tangan putrinya yang melekat sambil menangis-nangis.
“Jangan tinggalkan aku! Biarkan aku bersamamu! Aku enggak akan bohong lagi! Aku gak akan melanggar janji! Aku bakal jadi gadis baik, gadis baik, gadis baik … jadi jangan tinggalkan, aku ….”
“Emilia … Emilia, Emilia, Emilia!”
Tidak ingin terpisah dari ibunya, Emilia kecil rela mengorbankan segalanya demi kebersamaan, dia menjerit-jerit. Fortuna, parasnya memburuk karena emosi, memeluk putrinya erat-erat. Bila tidak menekan wajah putrinya ke dada, dia akan melihatnya.
Putrinya akan melihat muka ibunya, melihat air mata yang mengalir tak henti-henti, melihat tetes demi tetes membasahi pipi.
“Ibu, Fortuna ….”
Emilia kecil tidak melihat ibunya menangis, tetapi Emilia dewasa jelas-jelas melihatnya.
Emilia tak pernah membayangkan ibu mulia, hebat, kuat, terhormat, dan bijak, bisa sebegitu terluka dan sedihnya sampai-sampai air mata dia mengalir sangat deras.
Selagi melihat ibunya menangis, Emilia dewasa yang sedang menonton sudah tak tahan lagi.
Tidak bisa meletakkan tangannya ke pipi tepat waktu, air mata muncul satu demi satu.
Melihat demikian, setelah melihat wajah ibunya sekejap ini, dia langsung mengerti.
Bukan karena meragukannya, namun pada momen-momen ini, dia lagi-lagi teryakini.
“Ibu Fortuna … adalah, Ibuku yang sebenarnya ….”
Ibu kandungnya, siapa pun dia, tidak berarti sama sekali bagi Emilia masa kini.
Seolah-olah cuma pengganti yang membuat Emilia melupakan siapa ibu sejatinya.
Meskipun diucapkan oleh Ibu Fortuna yang berharga nan tersayang, kata-kata itu masih tidak bisa diterima Emilia kecil.
“Aku sayang, Ibu Fortuna ….”
Semua orang pun bersedia mengatakan apa saja biar perasaan ini terputar balik.
“Fortuna-sama!”
Suara seorang pria dari belakang memanggil Fortuna yang memeluk putrinya erat-erat.
Fortuna menyeka wajahnya dengan lengan baju, menyembunyikan semburan air matanya saat balik menghadap si pembicara.
Wajahnya mendarat pada seorang pria elf berpakaian minim.
Dia adalah salah satu elf yang tinggal di desa ini, sekaligus seseorang yang Emilia kenal baik. “Arch, bagaimana desanya?”
Pria itu berlari menghampiri selagi Fortuna menanyainya dengan suara bernada biasa. Si pria, Arch, nampaknya tahu Fortuna lagi menangis, tetapi tidak membahasnya dan menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“Semuanya sama. Bawahan Uskup Agung dan pasukan desa tengah membalas serangan, namun ….”
“Tidak begitu bagus, ya.”
Fortuna menurunkan pandangannya, menggigit bibir pada kondisi buruk pertempuran.
Emilia menatap cemas ibunya, tidak mengujar apa-apa saat menguatkan cengkeramannya.
Arch melihat anak itu gemetaran.
“Tidak apa-apa. Kau tidak perlu takut, Emilia. Percayalah pada kami para penduduk desa, kami para orang dewasa. Lagian, ibumu adalah orang kuat yang kelewat menakutkan.”
“Mmm.”
“Arch, memangnya menakutkan itu perlu disebut? Aduh ….”
Fortuna menyilangkan tangannya sambil marah-marah. Tapi tetap mengangguk terhadap kata-kata pertimbangan langsung Arch:
Kita tidak boleh bersikap pesimis terus soal ini, kemudian menatap Ruang Putri.
“Bersembunyi di sini tidak akan membantu, kan.”
“Memang rasanya tidak benar, tinggal di hutan berarti mereka ujung-ujungnya akan menemukan kita. Mungkinkah tujuan mereka adalah ….?”
“Segelnya berada jauh di dalam hutan. Kok mereka bisa tahu? Bahkan wanita itu pun tahu!”
Fortuna tampaknya menyimpan dendam terhadap kehadiran Pandora, menggigit frustasi bibirnya lalu menggelengkan kepala.
“Tidak apa-apa, omong-omong ayo kita pergi. Aku adalah petarung terkuat di hutan, bukan waktunya sembunyi-sembunyi di sini.”
“Tidak! Kamilah yang akan bertarung! Fortuna-sama, Anda bawa Emilia dan keluarlah dari hutan!”
“Lantas apa yang kita dapat? Tanah damai kita sudah direnggut … logika itu takkan menghentikanku. Kekalahan kita tidak jadi soal. Masalahnya adalah jikalau mereka membuka segelnya!”
Fortuna membalas teriakan Arch dengan teriakan lebih lagi.
Membuat Arch merasa malu.
“Maaf.”
“Aku tahu kau membenciku. Sejujurnya kalian tidak perlu terlibat dalam semua hal ini. Ketika Emilia dan aku datang … menaruh beban sia-sia kepada kalian.”
“Tidak! Tidak mungkin kami semua berpikir demikian!”
“Arch ….”
 Arch merespon galak suara Fortuna yang penuh penyesalan, seolah kata-kata tersebut tidak boleh diutarakan kepadanya.
Wajah arch memerah, telinga elf panjangnya menggeram.
“Tolong berhenti mengecualikan kami dari masalah Anda! Rentang hidup kita yang panjang, barangkali waktu hanya terasa seperti kedipan mata … biar begitu! Kita menghabiskan waktunya bersama-sama, segala halnya kita lihat bersama! Sudah lupakah Anda pada hal itu!?”
Fortuna terbungkam.
“Mana bisa menganggap buruk diri Anda! Padahal kami berhutang budi besar kepada Kakak Anda … kepada ibu Emilia, bisa-bisanya Anda menyuruh kami melupakan hutang-hutang tersebut!”
Emosi pria itu berapi-api, Arch yang hampir menangis memohon kepada Fortuna.
Nafas elf muda itu terengah-engah selagi berlutut, terisak-isak tatkala menatap Fortuna. Wanita itu memejamkan matanya.
“Maaf—Sekali lagi, tidak lagi kuanggap keluarga sedarah.”
“Fortuna-sama …. M-maaf telah mengungkitnya.”
“Tidak perlu minta maaf, sudah terlanjur. Maaf, Arch. Dan terima kasih.”
Fortuna berterima kasih kepada Arch yang berlutut, kemudian mengulurkan tangannya. Sejenak dia ragu-ragu, tapi akhirnya Arch meraih tangan Fortuna dan diam-diam berdiri kembali. Fortuna balik menghadap Emilia.
“Emilia. Ibumu punya peran penting untuk melindungi semua orang. Kita akan berpisah sebentar saja.”
“J-jangan, Ibu. Aku … aku ….”
“Tolonglah. Hanya sebentar, jadi dengarkan baik-baik. Pergilah bersama Arch, dan tinggalkan hutan. Hutan ini … tak lama lagi, akan jadi sangattttt berbahaya.”
Berbicara kepada Emilia yang menangis tersedu-sedu sambil menggelengkan kepala, Fortuna kembali menatap Arch.
Mata ungu teguhnya membuat tubuh kurus Arch tertegun.
“For-Fortuna-sama … saya.”
“Arch. Kau masih muda, masih punya masa depan. Tolong bawa Emilia, dan … aku tahu dunia ini sulit ditinggali, namun aku yakin ada harapan.”
“Saya … tidak menganggap seolah semuanya sudah berakhir! S-saya akan tinggal di hutan ini sampai akhir, bersama semua orang!”
“Tolonglah, Arch, Emilia. Dia putri kakak serta kakak iparku.”
“—!”
Semata-mata suara lirih seorang wanita, Fortuna tidak lagi mulia dan kuat.
Mendengar suara wanita sekaligus ibu ini, air mata menggulung turun ke wajah Arch.
Pria itu membenamkan wajahnya di tangan saat menangis.
“Tidak adil …! Saat Anda tahu hal itu, mestinya tidak bisa menolak ….! Saya ingin bertarung bersama semua orang! Tapi!”
“Maaf sudah memaksakan semuanya kepada anak-anak, tolong maafkan kami.”
Fortuna memegang pundak elf muda yang menangis, meminta pengampunan.
Arch tidak bilang apa-apa, menerima permintaan Fortuna belaka.
Kini, orang-orang yang wajib dibujuk Fortuna hanya Emilia seorang.
“Emilia.”
“Tidak! Aku, aku mau tinggal dengan Ibu! Tolong! Tolonglah! Biarkan aku bersama Ibu! Aku tidak ingin, sendirian ….”
“Kau sama sekali tidak sendirian. Dengarkan baik-baik.”
Emilia menangis dan tidak terimaan. Memegang telinga, berusaha menutup segala ucapan perpisahan ibunya, membuat Emilia dewasa hampir-hampir ingin mencubit bibir Emilia kecil.
Bukan menghukumnya karena tidak nurut. Namun karena tidak bisa kabur dari satu suku kata pun yang diimbuhkan Fortuna.
“Emilia.”
Fortuna jongkok. Memeluk Emilia lagi. Menggenggam tangan Emilia, menjauhkan tangannya dari telinga, dan saat kepala Emilia ingin menempel ke tubuhnya, Fortuna menyondol pipi ke rambut perak si putri. Seakan menyentuh sesuatu dan seseorang yang lebih penting dari segalanya, berhati-hati agar tidak menghancurkannya.
“Ibu ‘kan selalu bersamamu. Saat kau menutup mata, dalam ingatanmu. Persis sewaktu membuaimu, dalam hatimu yang menghangat. Seketika kau memanggilku, di bawah satu langit yang menyampaikan suaramu. Kau dan Ibu akan senantiasa bersama. Selalu, selalu, selama-lamanya … bersama.”
“Pembohong, pembohong, pembohong, pembohong …. Kau berbohong, bu ….”
“Emilia—Berjanjilah.”
Emilia mengibaratkan kata-kata ibunya sebagai hiburan saja, waktu Fortuna menatap matanya dan angkat bicara. Kata Janji mencekat nafasnya, menutup mulutnya. Teralih dari pandangan Fortuna ke telapak tangannya yang terbuka, Emilia muda menaruh telapak tangannya ke tangan Fortuna.
“Emilia dan Ibunya akan selalu bersama. Itu adalah janjiku kepadamu.”
“K-kau akan, benarkah … bersamaku?”
“Ya, beneran. Lebih dari semua orang di duia ini, Ibu sangattttt sayang padamu, Lia.”
Panggilan lembut Lia-lah yang membuat bendungan air mata Emilia dewasa jebol.
Terisak dan menangis, Emilia masa lalu dan masa kini.
“Ibu Fortuna …. Aku juga sayang Ibu … sayang Ibu, sayang Ibu ….” kata Emilia muda.
“Aku sayang kau. Aku sayang kau, Ibu Fortuna. Sayang Ibu, sangatttt sayang Ibu, sangat menyayangimu ….” kata Emilia dewasa.
Emosi kedua Emilia saling tumpang tindih saat masing-masing menjawab cinta yang diberikan kepada mereka.
Suara mereka kian serak, menekan tubuh erat-erat, semisal tidak melakukan demikian maka kedua perasaan mereka tidak tersampaikan, gagal mengutarakan semua perasaan dalam hati.
“Aku menyayangimu, Lia.”
Di pipinya, kelopak mata, dahi, bibir hangat nan lembut Fortuna menyentuhnya.
Kendati boleh saling menyentuh, berbagi pelukan, Fortuna terlambat belajar mengekspresikan cinta seorang ibu, dan takkan pernah melakukan itu—hanya momen-momen inilah, Fortuna sejatinya dari relung hati nan terdalam, pertama kali menerima dirinya sebagai ibu Emilia.
“—Aku mengandalkanmu, Arch.”
“… Dimengerti.”
Setelah menyampaikan cinta absolut kepada sang putri, Fortuna berdiri dan memanggil si pemuda. Arch mengambil Emilia yang menangis dari Fortuna, mendekapnya erat-erat, dan membungkuk sekali.
“Pergilah dengan selamat.”
“Akan saya lakukan …. Ya! Saya takkan membiarkan Emilia … takkan membiarkan anak ini dilukai seorang pun!”
Pipi Fortuna melega.
Dia menunjuk jalan yang mengarah lebih dalam ke hutan.
“Lewat sana. Pergilah.”
“—”
Arch berlari, menuju arah yang ditunjuk Fortuna, tidak mengatakan apa pun.
Dalam dekapannya tatkala berlari menyusuri hutan, Emilia mengintip dari balik pundak Arch—melihat ibunya yang makin terlihat jauh. Dia menangis, tapi tiada suara terbuat. Mata tajam Fortuna menjadi lembut, makin-makin lembut.
“—Aku sayang padamu, Emilia.”



Didekap Arch, Emilia melihat ke arah ibunya yang menghilang.
Dalam hati memohon, terus melihat ke sana barangkali akan memunculkan ibunya.
Sebagaimana harapannya, mungkin dia akan datang mengikuti mereka.
“Emilia!”
Arch paham betul sifat keras kepala Emilia selagi memeluknya.
Wajah Arch jadi tidak karuan saat merenungkan harus berkata apa kepada hati muda si bocah yang telah berpisah dari ibunya.
“—Aku terkejut.”
Ucap Echidna kepada Emilia, mereka berdua berlari bersama untuk mengejar Arch.
Masih terpengaruh oleh perpisahan dengan ibunya, masih tidak menekan isakan tangisnya Emilia mempertanyakan maksud tutur sang Penyihir hanya lewat tatapan mata. Penyihir berambut putih mengangkat bahu.
“Terkejut bahwa kau tidak tinggal di belakang sana, mengikuti masa lalumu tanpa ragu. Padahal kuyakin reaksimu sama seperti ketika menonton si Kemalasan, merasa masa bodoh dan tetap tinggal bersama ibumu.”
“… Sudah kubilang. Aku di sini untuk melihat masa laluku! Ibu, dan Geuse, semua orang … karenanya mereka ….”
“Mhmmm, mmm. Mengatakan hal yang tidak ditanyakan, betul?”
Sepertinya tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan, Echidna menggelengkan kepala.
Bahkan Emilia pun kesal terhadap ketidakpercayaan Echidna, tapi sebelum sempat mengucapkannya, Emilia muda mengubur wajahnya dengan tangan.
“Kenapa? Kenapa? Bagaimana bisa, jadi seperti … ini? A-apakah, karena aku … aku, melanggar janjiku, dan … meninggalkan, ruang ….”
“Tidak. Tidak, Emilia. Sama sekali bukan salahmu! Bukan juga salah Fortuna-sama, bukan salah seorang pun! Jangan salahkan dirimu!”
“Tapi, kok bisa? Kok bisa, kami berpisah? Ibu … dan Geuse juga, bagaimana … mereka, mereka membenciku? Ada, banyak orang, yang membenciku, pasti begitu ….”
Perpisahannya yang terlampau mendadak dari Geuse serta Fortuna telah memukul hati Emilia hingga hampir hancur.
Memikirkan kembali kronologi situasi ini ke depannya, atas perbuatannya sendiri, Emilia muda tenggelam dalam serba-seribi penyangkalan diri.
Dia telah melanggar janji, meninggalkan ruang yang sepatutnya tidak ditinggalkan. Dia tahu soal Segel yang sepantasnya tidak dia ketahui. Nampaknya semua kejadian ini adalah hasil perbuatannya.
“Apakah aku … harus tinggal di sini, tinggal dalam ruangan? Kalau gitu, semua orang, tidak akan menghilang … dan aku, bisa bersama semua orang?”
“Emilia ….”
“Memangnya aku anak nakal ….? Semua orang, di dunia ini, akan membenciku … dan, apakah aku akan sendirian?”
“Tidak …. Tidak, Emilia! Tidak seorang pun di luar sana akan membencimu. Dunia takkan menyakitimu …. Dunia akan menyambutmu!”
Arch dengan panik berusaha membujuk Emilia yang menangis.
Sebagian dirinya hendak menghentikan tangisan Emilia, namun sebagian besarnya hanya berharap—karena dia sendiri ingin meyakini harapan itu.
Teriakan Arch menyerang jantung Emilia dewasa.
Bukan hanya Fortuna serta Geuse. Dia dan para penduduk desa lain melindunginya, menyayanginya, menemaninya agar tidak sendirian.
Baru saat ini Emilia benar-benar teringat: selalu, selalu seperti ini.
“Hei kau yang di sana—!”
Teriakan tajam, seseorang menghalangi jalan pelarian Arch.
Seorang pria berjubah hitam keluar dari celah-celah pepohonan, menghentikan Arch secara paksa dan berwaspada. Namun pria berjubah ini mengangkat tangannya.
“Bentar, jangan khawatir! Aku salah satu jari Uskup Agung RomanĂ©e-Conti!”
“Uskup Agung ….!”
Mendengar nama Geuse dari pria berjubah itu membuat wajah Arch lega. Pria itu mendekat setelah Arch tidak lagi waspada, dan mendapati Emilia.
“Gadis ini … mungkinkah, Fortuna-sama tidak mungkin ….?”
“Tidak perlu resah. Beliau … beliau semata-mata mempercayakan Emilia kepadaku, dan menyuruh kami pergi. Fortuna-sama adalah elf paling perkasa di desa. Beliau pasti akan mengalahkan para penyerang, dan ….”
“… Walaupun berat hati kukatakan, aku cemas kemenangan akan sukar diraih.”
Pria itu menurunkan pandangannya, suaranya melemah.
Arch menaikkan alis. Pria itu mendesah, ekspresinya muram.
“Kami telah mengkonfirmasi kehadiran Uskup Agung Keserakahan, Uskup Agung kami sedang melawannya. Kesampingkan masalah itu, kami berhasil memukul mundur anggota-anggota ekstrimis, kami mungkin mampu mengalahkan mereka, namun ….”
“Ada masalah lain ….?”
“—Mahluk Penyihir, Ular Hitam telah dilepaskan di hutan.”
“—!?”
Arch tertegun.
Menggelengkan kepalanya tidak yakin, menunjuk hutan.
“Itu konyol, tidak mungkin! Ular Hitam bahkan lebih mudah dikendalikan ketimbang Paus Putih atau Kelinci Besar! Bukan Paus Putih yang berada di bawah komando langsung Kerakusan, ataupun Kelinci Besar, Ular Hitam tidak bisa dikendalikan … Mereka hanyalah malapetaka yang tak mendengarkan siapa pun! Bencana di antara bencana! Bagaimana bisa!”
“… Seorang Penyihir, Pandora-sama yang melepaskannya. Pandora-sama sendiri tidak kuasa mengendalikan Ular Hitam dengan Wewenangnya, tetapi masih bisa mengarahkannya ke suatu tujuan.”
“Pandora? Nama itu tidak pernah aku dengar ….”
“Keberadaannya dirahasiakan! Dalam Pemuja Penyihir pengucapan namanya saja sudah tabu, baik oleh faksi Uskup Agung ataupun para ekstrimis. Kini dia telah datang ke sini.”
Syok Arch membuat dirinya sendiri terdiam seribu bahasa.
Kesalahan Arch karena telah tenggelam dalam keputusasaan disebabkan detak jantung dalam dekapan tangannya. Kamusnya yang tidak mengenal kata kelemahan hati.
“Fortuna-sama menyuruhku untuk membawa Emilia keluar. Terlepas dari apa yang mungkin terjadi pada hutan ini, si gadis … si harapan, harus dilindungi!”
“… Aku akan menyertaimu. Kendati tidak tahu bisa sebermanfaat apa orang lemah macam diriku.”
Tekad kuat Arch untuk bertarung membuat tampang negatif si Jari berubah menjadi kekuatan.
Melepaskan jubahnya, memperlihatkan kaki berotot yang agak kekar seusianya, berlari cepat sebagai penuntun sepanjang jalan keluar dari hutan.
“Kita lanjutkan perjalanan ini sambil menghindari para ekstrimis. Nah, seumpama kita keluar hutan, hal-hal ke depannya pasti—”
Lebih lancar. Namun pada saat-saat itu, sesuatu menjerat kaki si pria, menyengkatnya. Dia jatuh ke samping sedangkan Arch berteriak dan dengan panik menghampirinya.
Namun si pengikut Geuse balas teriak kepada Arch ….
“Jangan mendekat!”
“—!?”
“Salahku … tidak kusangka itu datang begitu cepat!”
Pria itu mencoba bangkit. Namun, hanya tubuh bagian atasnya yang naik. Kakinya, entah kenapa tidak bergerak satu inchi pun.
Di balik jubahnya yang terbalik—terdapat tanda-tanda seperti luka bakar hitam mengotori tulang keringnya yang terbuka.
“Lidah eji Ular Hitam! Pergilah!”
“Tapi!”
“Aku sudah tidak terselamatkan ….”
Tampang pria itu perlahan-lahan berubah.
Kulitnya dari leher ke hingga atas tenggelam dalam warna gelap, membelang-belang, wajah lembutnya membengkak lebar, bola matanya hampir jatuh ketika mukanya makin parah.
Jemarinya mencakar-cakar lehernya yang berbintik-bintik, mulutnya menumpahkan banyak buih-buih kuning.
“Ghb, bhbhbhb, aghaghgahaghagh, ghhbhbh ….”
Langsung memahami maksud erangan kesakitannya, rongga matanya, lubang hidungnya, mulutnya, setiap lubang dalam dirinya mengeluarkan darah kotor, mencekik hidupnya hingga tidak tersisa apa-apa, pelan-pelan rohnya mulai keluar. Arch bersama Emilia hanya mampu menyaksikan kematian menyakitkan tersebut, tidak satu pun hal mampu mengembalikan ketenangan mereka. Bahkan muka Echidna mengerut pedih.
“Wabah Bunga Rampai …. Mahluk Penyihir Hawar, Ular Hitam!” suara Arch menegang, dia menyebut nama pembunuh si pria, seekor hewan.
Walaupun tidak ada yang menjawab panggilan itu, hutan mendadak jadi sunyi kecuali nafas Arch dan Emilia.
Desisan seekor hewan besar yang menjilati bibirnya.
Sesuatu yang panjang nan kurus merayap di bumi.
Kebisingannya berlebih-lebih, sulit untuk dijabarkan. Tapi hampir menyerupai suara ular yang menemukan seekor mangsa, lidahnya menjulur keluar saat menggeliat di tanah.
“—Pantek!”
Setelah menebak identitas sebenarnya suara itu, Arch tersadar dia dan Emilia berada tepat di tengah-tengah wilayah perburuan Ular Hitam.
Meski sadar berteriak tidak ada faedahnya, dia harus berteriak. Tidak tahu cara lain untuk melawan mahluk-mahluk itu.
Tidak yakin mesti berlari ke mana, Arch menjauh dari pria itu. Tidak ada cantolan arahan Fortuna dalam kepalanya. Saat ini, dia kudu melarikan diri dari ancaman mereka. Mesti melindungi apa yang harus dilindungi.
Perlawanan dahsyat elf muda itu—
“Agh—"
—Dengan kejam dihancurkan oleh lidah hitam menjijikkan yang menjerat pergelangan kaki kanannya.
Bagian kulit yang dijilati lidah penuh bekas luka bakar berbintik-bintik gelap.
Sewaktu Arch mendapatinya, elf itu membuka telapak tangannya ke kakinya.
“…. FULA!!!”
Tidak ragu-ragu, menembakkan bilah angin untuk memotong kakinya yang terluka dari tulang kering sampai ke bawah. Kehilangan pijakan, dan menopang kejatuhan badannya dengan batang pohon. Darah menyembur keluar, menahan rasa sakit yang merangsang otaknya, menggertakkan gigi keras-keras sampai mau patah.
“Huhhhh!”
Terdengar retakan tatkala tunggul Arch yang terputus mulai membeku.
Muncul kabut putih, Arch meraung saat dia terpaksa menghentikan pendarahannya.
Tindakan mengerikan ini membuat Emilia dewasa terdiam. Keputusan spontan untuk menangkal rasa sakit. Karena kekuatan hatinya Emilia belum terlepas dari dekapannya sekalipun dihadapkan semua penderitaan ini.
“Arch ….?”
Kepala Emilia yang ditekankan ke dada, gadis muda itu melihat aksi Arch. Pria elf itu tidak berniat membiarkan Emilia melihatnya.
Walaupun wajahnya dipenuhi keringat dingin, dia masih tetap tersenyum.
“Tidak … apa-apa … aku … baik-abik saja!”
Meskipun perkataannya terputus-putus, Arch menjawab agar Emilia tidak merasakan satu hal janggal pun.
Namun nasib kejam menertawakan semangat pria mulia ini.
Kakinya putus, keputusan panik guna menutup pendarahan dari tunggulnya—bagian kakinya yang tidak terluka kelihatan kering, merekah-rekah bak tanah yang dehidrasi, dampaknya kian menyebar.
Seolah-olah kaki Arch sekarat layaknya bentang alam gersang. Dampaknya juga tidak cuma pada kaki. “… Emilia. Kau lihat bunga-bunga kecil di antara dua pohon itu?”
“… Mmn.”
Arch berjongkok dengan punggung yang ditopang pohon. Setelah duduk di tanah, Emilia melihat arah penunjuk Arch, dan mengangguk ketika melihat bunga-bunga putih. Arch menyeka keringat di alisnya. Menyembunyikan rasa pedih.
“Bisakah, kau menghampiri bunga-bunga itu? Berlarilah, melewati bunga-bunga itu … lurus terus … lurus saja, terus ….”
“Aku, bisa. Bisa. Tapi ….”
“Kalau begitu, larilah—”
Meskipun bingung, Emilia muda kini tahu keadaan Arch sangat aneh, mata ungunya bimbang.
Bimbang karena dia akan sendirian.
Lagi-lagi, dia kehilangan seseorang.
“Semuanya akan baik-baik saja. Emilia, kau, takkan sendirian ….”
“Arch ….”
“Sekarang, larilah. Entah mendengar apa, jangan melihat ke belakang … larilah!”
Perintah tajam Arch membuat bahu Emilia tersentak, setelahnya, Emilia lari. Menahan dorongan hati untuk melihat ke belakang, menitahkan kehendaknya untuk tidak melakukannya. Kata-kata Arch, kata-kata Fortuna, kata-kata Geuse, semuanya mendengung dalam otak Emilia.
Agar dia bisa percaya: seandainya mengikuti apa pun yang Fortuna instruksikan, semuanya akan oke-oke saja.
Sehingga dirinya teryakini, Emilia kecil hanya bisa mengikuti perintah.
Kabur meninggalkannya, Arch memperhatikan Emilia menghilang ke penghujung harapan.
Pria itu mendesah panjang Menggulung lengan jaketnya.
Kaki dan pinggangnya sudah kering, sampai perutnya. Sepasang kakinya sudah membeku, sangking bekunya disentuh saja sudah langsung hancur berantakan.
Kala pembekuan itu mencapai dada, masuk ke jantung, apa yang akan terjadi?
Dia mendengar mahluk itu sedang merayap, menghadap mangsanya.
Arch mendengar desisan, seakan hendak menyerang gadis yang berlari itu, satu-satunya harapan hutan, makna nyawa Arch yang masih tersisa walau pelan-pelan akan melayang, dia kerahkan.
“Takkan kubiarkan kau pergi ….”
Ular itu berhenti.
Seakan kembali menaruh minat kepada mangsa yang masih hidup.
Sara desisannya semakin jelas. Walaupun dia merasakan akhir sudah dekat, pipi Arch menyantai.
Kematian yang ingin melahap dirinya berarti gadis itu jauh dari kematian.
“Aku tahu dia akan baik-baik saja, Fortuna-sama.”
Kematian merayap lebih dekat.
Arch mendengarnya, biarpun merentangkan tangan kepada bahaya fana yang levelnya jauh berbeda, kebangaan Arch terhadap pencapaiannya membuat dirinya tersenyum.
“—”
Senyum itu, meski nampak seperti kemarau nan gersang, masih tetap sama.



—Emilia telah lama melewati bunga-bunga putih.
“Hah … hah … hauhhh ….”
Nafasnya acak-acakan, menuntut langkah panjang dari kaki mungilnya sembari berlari menelusuri hutan.
Semua itu dia lakukan sambil memikirkan sang ibu, Geuse, dan Arch, berpikir lari ke arah yang ditunjukkan Arch merupakan hal terbaik, tidak pengen mempertimbangkan keputusan lain.
“Auhh … aaaauahhh!”
Emilia menggelengkan kepala. Mati-matian mencegah isak tangis keluar dari bibirnya.
Apa yang terjadi, mengapa bisa terjadi?
Semua orang tahu sesuatu, dan dia tidak tahu apa-apa.
Dia tidak tahu mesti berbuat apa, tidak tahu apa pun. Tidak adakah hal yang bisa dia lakukan?
Siapa pula yang menyerang Fortuna, Geuse, Arch, dan yang lainnya? Dia bisa apa untuk mengusir mereka? Tujuan mereka apa—
“Segelnya ….”
“Ya.
Fortuna bersama Arch membicarakan sesuatu. Geuse yang berbincang dengan Fortuna pernah menyebutkan barang yang entah bagaimana penting.
Yang artinya, tujuan mereka adalah barang itu?
“—Huhhh.”
Kaki Emilia yang berlari mendadak mengudara, dia baru sadar telah masuk area dataran miring.
Serta-merta mengulurkan tangan untuk menghentikan lajunya, tetapi dataran landai tersebut tidak membantu si gadis kecil, berada di bibir momentumnya, Emilia tersandung, terguling-guling, terjatuh.
Biasanya, dia menangis hanya karena tergores dan memar-memar, lalu berdiri kembali.
Tetapi kali ini, tubuh serta pikirannya yang kelelahan, kepala Emilia yang menghantam tanah membuatnya tak sadarkan diri untuk sementara waktu.
“Aku ….”
Detik-detik ini, ketika Emilia kecil tahu mesti melakukan apa. Setelah semuanya, saat mendapatkan jawabannya.
Nyala api yang berkobar-kobar di dada mininya, kesadarannya menghilang.
—Cerita tersebut berakhir pada si gadis, dan untuk sementara waktu kembali ke adegan pertarungan.
Menonton takdir sekaligus konklusi dua orang.

No comments: